MuLaKaN hIdUPmU dENGAN.....

Tuesday, February 22, 2011

Masih Mahu Beralasan ???????

Berkemungkinan jalan yang sedang kita lalui agak samar-samar dan tidak jelas ke mana hala tujunya. Kadang-kadang juga tujuannya jelas tetapi lorongnya masih kabur. Namun, kesungguhan kita dalam mencari jalan terbaik untuk ditelusuri bakal mengundang hidayah dan petunjuk daripada Allah. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-’Ankabuut Ayat 69:

"Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak ugama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredaan); dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya."


Selalunya bukan tidak ada jalan, tetapi kita yang tidak mahu mencari jalan, cepat berputus asa dan lebih memilih untuk tidak meneruskan kesungguhan dan keazaman.

“Pasti ada jalan terbaik”

Kita perlu optimis dengan sentiasa meletakkan pergantungan hanya kepada Allah dalam mencari jalan dan memecah segala kebuntuan. Dan tidak mustahil sesuatu yang luar biasa bisa dicapai. Tatkala manusia ramai mengatakan tidak ada jalan, dia akhirnya menemui yang tidak disangka-sangka.

Orang yang berputus asa adalah orang-orang yang tidak yakin akan kehebatan dan kekuasaan Allah dalam menyinari jalan-jalan yang bakal kita lalui. Orang yang hidupnya penuh beralasan. Bahkan tidak keterlaluan jika dikatakan telah menafikan segala bentuk petunjuk daripada menerangi laluan, lantas hasilnya adalah menemui jalan buntu. Mungkin kita termasuk dalam kalangan orang-orang ini. Jangan sesekali berputus asa.

"dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah itu melainkan kaum yang kafir." Surah Yusuf : ayat 87


Kehidupan ini sentiasa menuntut kita membuat keputusan. Keputusan kita menentukan jalan mana yang akan dilalui. Jika kita memilih menjadi seorang Mukmin, maka jalan-Nya harus selari dengan tuntutan terhadap seorang Mukmin. Sekalipun kita buntu membuat pilihan terbaik, jangan pernah berputus asa untuk menonjolkan kesungguhan dan keazaman yang tinggi.

Pernahkah Rasulullah memberikan alasan bahawa kemungkaran terlalu meluas dan tidak sesuai untuk sebarkan dakwah semasa baginda diutus menjadi rasul? Atau baginda memberikan alasan bahawa baginda seorang yang ummi, tidak pandai menulis dan membaca? Pastinya tidak. Jalan yang dilalui oleh baginda jauh lebih hebat cabarannya berbanding apa yang sedang kita rasakan ‘susah’. Ya, memang susah rasanya nak berdakwah di tengah-tengah masyarakat Islam yang rosak, apakah kita rasa lebih susah daripada berdakwah ketika tidak ada seorang pun orang Islam? Memang susah rasanya berdakwah tatkala kesempitan wang, apakah kita rasa lebih susah daripada berdakwah tatkala dipulaukan seluruh masyarakat, diseksa dan dihalau?

Kita bagaimana? Sudahkah kita buntu mencari jalan tatkala masih banyak lorong-lorong yang belum kita terobosi? Adakah kita hanya keletihan kerana tidur berdengkur sepanjang hari? Sudahkah kita mendapat luka begitu hebat kerana menjalankan tugas dakwah? Persoalan-persoalan ini bisa menjelaskan status kita sebagai pencari jalan atau pencari alasan.

Jika kekayaan dijadikan alasan, Nabi Sulaiman memiliki kekayaan yang tiada tolok bandingnya. Jika kesakitan menjadi alasan, Nabi Ayyub teruji dengan kesakitan yang amat hebat dan menyakitkan. Jika kekuasaan menjadi penghalang, Nabi Sulaiman memiliki kerajaan yang meliputi binatang dan jin. Jika orang tak mahu mendengar, Nabi Nuh berdakwah sehingga hampir seribu tahun. Nabi Ibrahim berdakwah sehingga dilemparkan ke dalam api yang marak. Kita, tidak dapat berdakwah kerana terlalu aman? Apakah di sisi kita punya perkara untuk dijadikan alasan?

Kalau nak buat, carilah 1001 jalan. Kalau tak nak buat, silakan carilah 1001 alasan. Ingat, setiap apa yang kita buat akan dipersoalkan.

Thursday, February 17, 2011

Bersatulah Umat Islam


Bersatu

Artist: Raihan
Song Category: Nasyid
Menjadi harapan untukku menyaksikan
Umat yang bertuah ini kembali bersatu hati
Buangkan yang keruh ambillah yang jernih
Tiada yang lebih berharga selain dari perpaduan

Lupakanlah segala persengketaan
Hubungkan kembali tali persaudaraan

Kerna orang beriman itu bersaudara
Saling bertolong bantu berkasih mesra
Agar generasi kita di masa hadapan
Bangga dengan apa yang kita wariskan

Menjadi harapan untukku menyaksikan
Umat yang bertuah ini kembali bersatu hati

Bersatu kita teguh bercerai kita roboh
Yang berat sama dipikul
Yang ringan dijinjing sama

Sepakat membawa berkat asas hidup bermasyarakat
Amalkan hidup yang sihat selamat dunia akhirat
Lupakanlah segala persengketaan
Hubungkan kembali tali persaudaraan ( 2X )

Kerna orang beriman itu bersaudara
Saling bertolong bantu berkasih mesra
Agar generasi kita di masa hadapan
Bangga dengan apa yang kita wariskan

http://www.ilirik.com/raihan_--_bersatu.html


Thursday, February 10, 2011

Maulidul Rasul :Sampaikan Salam kami buat BAGINDA SAW


muhammadIn the next few days, 12th of Rabi'ul Awwal, Muslims in all over the world will celebrate the birth anniversary (Maulid) of Prophet Muhammad (SAW), the best of creations and mercy to the worlds.

But there are some scholars disagree about celebrating the Prophet's birthday (Maulid), they said it is an improper innovation and forbid its celebration.

And for that I would like to cite for you the following fatwa about is it permissible to celebrating Prophet's birthday (Maulid) issued by Sheikh `Atiyyah Saqr, former head of Al-Azhar Fatwa Committee, and also from Sheikh Yusuf Al-Qaradawi, the head of the European Council for Fatwa and Research (ECFR), and the president of the International Association of Muslim Scholars (IAMS),

Fatwa about celebrating Prophet's birthday (Maulid) from Sheikh `Atiyyah Saqr


The Prophet (peace and blessings be upon him), says that the day he was born was a special day. Since it is well known from the Shari`ah that Muslims should seize the opportunity in blessed days and do good deeds, Muslims should celebrate the Prophet's birthday so as to thank Allah for guiding them to Islam through Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him).

Therefore, celebrating the Prophet's birthday is permissible provided that it does not include committing any of the prohibited things. As for throwing banquets, this comes under the verse saying: (O ye who believe! Eat of the good things wherewith We have provided you, and render thanks to Allah if it is (indeed) He whom ye worship.?) (Al-Baqarah 2: 172)

My opinion is that celebrating such a religious occasion is recommended especially nowadays for youth have become forgetful of these religious occasions and their significance because they have indulged in other celebrations.

Celebrating such a great event should be done through reading more about the Prophet's Sunnah and life, building mosques, religious institutes and doing other forms of charity work that remind people of the Prophet's life and his struggle.

Therefore, it is permissible to celebrate the Prophet's birthday as an expression of our love to him and our endeavor to follow him as an example provided that these celebrations do not involve any of the prohibited things. Some prohibited things are improper intermingling between men and women, behaving improperly at mosques and partaking in innovations such as worshiping at tombs and other things that violate the teachings of Islam. If such previously mentioned violations surpass the religious benefit realized from these celebrations, then they should be stopped in order to prevent harm and wrongdoing as indicated in the Shari`ah.


Fatwa about celebrating Prophet's birthday (Maulid) from Sheikh Yusuf Al-Qaradawi


We all know that the Companions of the Prophet (peace and blessings be upon him) did not celebrate the Prophet's birthday, Hijrah or the Battle of Badr, because they witnessed such events during the lifetime of the Prophet who always remained in their hearts and minds.

Sa`d ibn Abi Waqqas said that they were keen on telling their children the stories of the Prophet's battles just as they were keen on teaching them the Qur'an. Therefore, they used to remind their children of what happened during the Prophet's lifetime so they did not need to hold such celebrations. However, the following generations began to forget such a glorious history and its significance. So such celebrations were held as a means of reviving great events and the values that we can learn from them.

Unfortunately, such celebrations include some innovations when they should actually be made to remind people of the Prophet's life and his call. Actually, celebrating the Prophet's birthday means celebrating the birth of Islam. Such an occasion is meant to remind people of how the Prophet lived.

Allah Almighty says: (Verily in the Messenger of Allah ye have a good example for him who looketh unto Allah and the last Day, and remembereth Allah much.) (Al-Ahzab 33: 21)

By celebrating the Prophet's Hijrah, we should teach people values such as sacrifice, the sacrifice of the Companions, the sacrifice of `Ali who slept in the Prophet's place on the night of the Hijrah, the sacrifice of Asma' as she ascended the Mountain of Thawr. We should teach them to plan the way the Prophet planned for his Hijrah, and how to trust in Allah as the Prophet did when Abu Bakr told him: We could be seen so easily, the Prophet replied saying: "O Abu Bakr! What do you think of two when Allah is their third?" (Have no fear, for Allah is with us.) (At-Tawbah 9: 40)

We need all these lessons and such celebrations are a revival of these lessons and values. I think that these celebrations, if done in the proper way, will serve a great purpose, getting Muslims closer to the teachings of Islam and to the Prophet's Sunnah and life.



Reference: Islamonline.net

http://www.dhuha.net/en/content/islam/islam/Celebrating-the-Prophets-Birthday-Maulid-Nabi